Puzzle adalah permainan yang dimainkan dengan tujuan
menyusun gambar, gambar diacak terlebih dahulu. Sehingga orang yang
memainkannya mencoba menyusunnya di dalam bingkai dengan menghubungkan
potongan-potongan atau kepingan gambar kecil sehingga menjadi gambar utuh.
Puzzle merupakan permainan yang membutuhkan kesabaran
dan ketekunan dalam merangkainya. Puzzle merupakan kepingan tipis yang terdiri
dari 2-3 bahkan 4-6 potong. Dengan terbiasa bermain puzzle, lambat laun
mental orang terutama anak juga akan terbiasa untuk bersikap tenang, tekun, dan
sabar dalam menyelesaikan sesuatu. Kepuasan yang didapat saat anak
menyelesaikan puzzle pun merupakan salah satu pembangkit motifasi anak untuk
menemukan hal-hal yang baru.
Kali ini, puzzle yang akan kita mainkan tidak berbentuk
kayu maupun kepingan lainnya. Permainana puzzle ini berbentuk game aplikasi.
Caranya mudah sekali…
Tinggal kalian buka link
yang tersedia,
Lalu akan muncul sebuah
pertanyaan “Siapakah Aku?” dan sebuah pertanyaan serta beberapa keping gambar
puzzle yang berantakan.
Jawablah pertanyaan tersebut
dengan menyatukan kepingan puzzle yang teracak.
Jika kalian benar dalam
memilih gambar, maka gambar tersebut akan langsung tertata pada kotak kuning.
Tetapi jika kalian salah
dalam memilih gambar, maka gambar tersebut tidak akan bergerak dan akan
menimbulkan bunyi yang berbeda.
Namaku Rara. Aku
merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Adikku bernama Reno Aditya . Aku
duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 5. Pada saat liburan sekolah, aku diajak keluargaku
pergi ke Jepara. Sebenarnya, bukan hanya satu keluargaku saja yang pergi untuk
berlibur ke Semarang, tetapi liburan ini merupakan liburan sekampung halamanku
di daerah Sragen. Karena setiap akhir tahun kampungku selalu mengadakan piknik
bersama. Walaupun satu kampung tetapi aku tetap menganggap liburan ini sebagai
liburan keluarga karena seluruh keluargaku ikut. Mulai dari ayah, ibu, adik,
pakde, budhe, kakek, nenek dan saudara-saudaraku yang lain.
Pantai kartini Jepara
Aku berangkat dari rumah pukul 5
pagi. Aku berangkat dari rumah menuju ke ujung gang dengan berjalan kaki dan
aku menunggu bis di dekat gapura bersama keluarga dan orang-orang sekampung.
Suasana sangat ramai saat menunggu bis bersama-sama. Ada yang keberatan membawa
tasnya, ada yang lupa membawa topi dan harus kembali lagi ke rumah, ada juga
anak kecil yang menangis karena tidak mau pergi. Aku sendiri sibuk bermain
gadgetku sembari menunggu bis datang. Sekitar pukul 05.30 bis tiba dan kami pun
langsung bersiap menaiki bus dan berangkat. Selama di perjalanan, kami
berkaraoke riang gembira dan menikmati suasana pagi yang cerah di dalam bis.
Perjalanan dari Sragen menuju Semarang menempuh waktu kurang lebih 5 jam
lamanya karena kami tidak memilih lewat jalan tol. Andaikan kami memilih lewat
jalan tol, pasti hanya membutuhkan waktu sekita 3 sampai 4 jam saja. Apadalah
daya karena dana yang digunakan juga banyak dan sudah berkurang banyak untuk
menyewa bis, kebutuhan makan, obat-obat an, dan lain sebagainya.
Kami tiba di Semarang tepatnya di Pantai Kartini sekitar
pukul 09.30. Suasana pantai kartini pada saat kami datang masih sepi. Mungkin
karena kami datang terlalu awal. Kami bersenang-senang di pantai Kartini. Kami
menaiki kereta mini yang ada di sana, kami juga mengunjungi aquarium raksasa
yang ada di pantai Kartini. Di dalam Aquarium terdapat banyak ikan besar maupun
ikan kecil. Seperti ikan hiu, ikan paus, ikan koi, dan kura-kura.Tiket masuk
untuk memasuki aquarium raksasa adalah Rp17.000 untuk orang dewasa dan Rp12.000
untuk anak kecil. Banyak ikan yang aku foto dan aku rekam dengan video karena
saking lucunya. Setelah pukul 11.00, aku bersama rombongan keluargaku terpisah
dengan tetangga yang lain. Aku bersama keluargaku keluar dari aquarium raksasa
kemudian menuju pantai untuk naik kapal. Kami naik kapal menuju pulau seberang dekat
dengan pantai Kartini. Pulau yang kami kunjungi bernama pulau panjang. Yang
konon katanya pulau panjang merupakan pulau milik R.A Kartini dan selalu
menjadi tempat istirahatnya R.A Kartini. Setiap pengunjung dikenakan tarif
Rp20.000. Jika bersama rombongan, harus pintar-pintar nego sama pemilik kapal.
Perjalanan menuju lokasi tersebut memakan waktu sekitar 10 – 15 menit. Keseruan
semakin bertambah karena dapat menikmati perjalanan ditemani gelombang laut,
birunya air, dan deru angin menambah semangat perjalanan. Ingat, untuk selalu
memakai pelampung demi keselamatan. Belum banyak orang yang mengetahui pulau
panjang ini. Aku pun juga baru tahu setelah berada di pantai Kartini. Memasuki
dermaga pulau ini, kami disambut dengan pepohonan yang rindang dan hamparan
pasir putih serta banyak terumbu karang. Kondisi air lautnya juga sangat tenang
sehingga cocok untuk berenang. Tetapi cuaca saat kami sampai di pulau panjang
sangat panas. Mungkin karena kami datang terlalu siang. Tetapi tidak masalah
bagiku, aku masih bisa menikmati indahnya pulau panjang dengan hamparan pasir
putih dan terumbu karangnya.
Selanjutnya, aku bersama rombongan keluargaku
meninggalkan pulau panjang pada pukul 12.00. Setelah itu, aku dan keluargaku
bersama rombongan sekampung sholat berjamaah di masjid dekat dengan aquarium
raksasa dan melanjutkan untuk makan siang bersama. Kami meniggalkan pantai
Kartini pukul 14.00. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju pantai berikutnya
yaitu pantai Bandengan. Bisa dibilang tempat ini
adalah alternatif liburan bila, pantai kartini penuh. Maklum saja, pantai
kartini adalah ikon sekaligus jalur utama menuju ke surga impian jawa yaitu
pulau karimunjawa. Pantai Bandengan juga tak kalah keindahannya dengan pantai
Kartini dan Pulau Panjang. Pantai ini juga mempunyai pasir putih dan banyak
pepohonan menjulang tinggi sehingga udara pun menjadi sejuk. Aku dengan
keluargaku segera mencari tempat untuk menggelar tikar di dekat pantai dan
menikmati indahnya pantai sambil minum es degan yang segar yang aku beli di
sekitar sana. Walaupun sebenarnya cuaca di pantai ini sangat panas, sama
seperti panasnya pantai Kartini, namun terbantu oleh pepohonan yang rindang.
Adikku berenang lagi karena tidak tahan melihat air laut yang tenang dan begitu
menyenangkan untuk berenang. Aku pun tiduran di tikar yang digelar tadi sambil
menikmati semilirnya angin bersama daun-daun dari pohon palm. Waktu tak terasa
semakin sore. Tepat pukul 16.30, aku bersama rombongan meninggalkan pantai
bandengan dan pulang ke Sragen. Selama perjalanan, kami mampir ke pusat
oleh-oleh di daerah Jepara.
Setelah itu, aku bersama seluruh
rombongan denga keadaan lelah bergegas untuk pulang. Walau lelah tetapi liburan
ini terasa sangat menyenangkan karena seluruh keluargaku ikut. Selama dalam
perjalanan pulang, semua orang dalam bis tidur. Mungkin karena saking lelahnya.
Aku pun juga ikut tertidur dengan bantal leher yang aku bawa dan jaket yang aku
selimutkan di badanku. Karena udaranya sangat dingin dan aku lupa membawa
selimut, jadi aku memakai jaket untuk kujadikan selimut. Kami tiba di Sragen
pukul 22.00. dengan wajah yang kusut dan badan yang lemas, aku membawa seluruh
barang-barangku dan berjalan kaki pulang ke rumah. Itulah perjalananku saat
liburan ke Jepara.
Ani merupakan murid Sekolah Dasar yang mayoritas
teman-teman di kelasnya adalah orang Sunda. Ani sendiri berasal dari Jawa dan
dibesarkan dalam tata cara keluarga yang memiliki adat Jawa. Secara spesifik
memang tidak ada perbedaan yang mencolok selain dari bahasa yang digunakan.
Jadi, tidak terlalu sulit baginya untuk berkomunikasi dengan teman yang
mayoritas menggunakan bahasa Sunda. Tetapi tidak jarang Ani mengalami
kebingungan untuk memahami kata-kata mereka ketika mengobrol menggunakan bahasa
Sunda.
Namun, ada pula teman Ani yang
bernama Robby yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Perbedaan budaya
dan gaya bahasa cukup terlihat dan hampir menimbulkan konflik di kelas. Orang
Makassar memiliki kebiasaan bicara dengan suara keras dan gamblangf. Jika Robby
merasa tidak cocok atau tidak suka, dia langsung mengatakannya dengan nada
tinggi dan ceplas ceplos. Hal ini membuat suasana kelas menjadi tidak nyaman.
Hingga akhirnya, guru menyarankan untuk menggunkana Bahasa Indonesia yang baik
dan benar untuk berkomunikasi satu sama lain agar tidak ada lagi yang
berselisih antar bahasanya masing-masing. Dan seluruh teman kelas Ani pun
setuju menggunakan bahasa Indonesia. Kini saat pembelajaran berlangsung, hampir
tidak pernah lagi ada perselisihan yang disebabkan oleh perbedaan budaya.
Karena sejatinya, Indonesia merupakan sebuah negara yang kaya dan beranekaragam suku maupun budaya. Kita sebagai warga negara Indonesia harus senantiasa menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia. Jangan sampai karena perbedaan budaya yang dimiliki malah akan menjadi boomerang untuk bangsa Indonesia.