Di
suatu desa, tinggal sebuah keluarga yang hidup bahagia. Di dalam keluarga
tersebut terdiri dari ayah, ibu dan satu orang anak laki-lakinya yang bernama
Gopal. Orang tua gopal bernama Joko dan Sutinah. Gopal adalah siswa kelas 3 SD.
Jarak ke sekolah tidak jauh dari rumahnya. Dengan berjalan kaki hanya
membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai ke sekolah. Setiap hari Pak joko dan
Ibu Sutinah bekerja di sawah milik tetangganya. Mereka hidup sangat sederhana.
Cukup untuk makan dan minum sehari-hari. Mereka mempunyai kebiasaan menolong
orang yang sedang kesusahan. Karena kebiasaannya itu, banyak penduduk yang
senang terhadap mereka. Hari demi hari Pak Joko dan Bu Sutinah habiskan waktu
di sawah. Tiada kejenuhan yang mereka rasakan. Setiap pulang sekolah, Gopal
selalu menyusul kedua orang tuanya di sawah. Kadang di hari libur, gopal juga
ikut membantu kedua orang tuanya di sawah. Gopal mempunyai hobby membaca. Saat
pulang sekolah, dia selalu membawa buku yang dia suka untuk dibaca di sebuah gubuk
kecil di sawah. Karena ketidakmampuan kedua orang tuanya untuk membelikan
buku-buku, gopal sering meminjam buku di perpustakaan sekolah dan meminjam buku
dari teman-temannya. Walaupun begitu, dia sering kali lupa mengembalikan buku
tepat pada waktunya. Dia selalu lupa meletakkan buku yang dia pinjam. Dia
sering menunda pengembalian buku baik buku temannya maupun buku perpustakaan. Ketidakpastiannya
itu membuat teman gopal menjadi jengkel kepadanya. Walaupun begitu, dia tidak
pernah menghilangkan buku yang dia pinjam.
Pada
siang hari saat gopal sedang membaca di sebuah gubuk kecil di sawah, ada
seorang kakek tua yang berpakaian compang-camping yang sedang kelaparan dan
kehausan. Kakek itu duduk di gubuk yang lain dekat dengan gubuk yang gopal
tempati. Gopal segera menghampiri kakek tersebut. Gopal mencoba bertanya kepada
kakek tersebut.
Gopal
: “Selamat siang kakek. Kakek kelihatan sangat pucat sekali. Ada yang bisa
gopal bantu?”
Kakek : “Nak, kakek
sangat lapar dan haus. Tapi kakek tidak punya uang untuk membeli.”
Gopal : “Ini ada
sedikit nasi dan air yang gopal punya. Ini untuk kakek.”
Kakek : “Tapi kamu
bagaimana nak? Apa kamu tidak lapar?”
Gopal : “Tidak kek,
sebelum kesini gopal sudah makan di rumah. Ini untuk kakek.”
Kakek : “Terima kasih
nak, kamu sangat baik.”
Setelah
selesai makan, kakek tersebut kembali mengucapkan terima kasih kepada gopal. Lalu
kakek itu memberikan sebuah tas yang jelek dan compang-camping sebagai
imbalannya. Tetapi gopal menolak pemberian kakek tersebut. Gopal memberi makan
dan minum tidak bermaksut apa-apa. Hanya agak sedih kalau melihat orang yang
kesusahan. Tetapi kakek itu tetap memaksa untuk memberi tas tersebut dan
akhirnya gopal pun menerimanya. Setelah itu, si kakek itu pun pergi untuk
melanjutkan perjalanannya.
Hari
berikutnya, gopal bangun pagi-pagi. Gopal terkejut melihat tas yang diberikan kakek kemarin. Tas
yang semula jelek dan compang camping, kini berubah menjadi tas yang bagus dan
berkilauan cahaya. Lalu gopal hendak pergi ke sekolah. Sesampai di sekolah,
semua temannya kaget melihat tas gopal yang sangat bagus. Lalu salah satu teman
gopal yang bernama erik bertanya
kepadanya.
Erik : “Dari mana kamu mendapatkan tas sebagus
ini, pasti kamu mencurinya?”
Gopal : “ Tidak, saya tidak mencuri.”
Erik : “Sudahlah, mengaku saja.”
Tetapi
gopal tidak ingin menceritakan darimana gopal mendapatkan tas itu. Gopal
langsung masuk kelas karena bel sudah berbunyi. Sesampai di rumah, ibu gopal
juga bertanya darimana dia mendapatkan tas itu. Gopal menceritakan kejadiannya
kapada ibu. Ibunya langsung percaya karena menurut ibunya, gopal merupakan anak
yang jujur dan tidak pernah berbohong. Hanya saja dia sering lupa. Ayahnya pun
juga menanyakan hal yang sama kepada gopal. Dan gopal menceritakan kejadiannya.
Ayahnya langsung percaya kepadanya.
Tak
terasa satu malam telah berlalu. Pagi-pagi gopal sudah bangun dan menyiapkan
semua buku yang hendak dibawanya ke sekolah. Termasuk buku PR yang ia kerjakan
semalam. Bel sudah berbunyi, gopal segera masuk kelas. Pak guru masuk ke kelas
dan memeriksa PR masing-masing dan siapa yang tidak mengerjakan PR disuruh
berdiri di depan kelas sampai waktu istirahat. Sewaktu gopal membuka tasnya
dilihatnya semua bukunya tidak ada. Padahal dia sudah mempersiapkan bukunya
tadi pagi. Hati gopal cemas, wajahnya pucat. Lalu pak guru bertanya kepadanya.
Pak guru : “Ada apa
gopal, kamu sakit?”
Gopal : “ Aaanu pak, buku saya hilang.”
Pak guru : “Apa, buku
kamu hilang?”
Gopal : “Saya juga tidak tahu pak. Padahal sudah
saya masukkan tas.”
(Pak guru pun langsung
memeriksa tas gopal)
Pak guru : “Nah ini
bukumu.”(sambil mengeluarkan buku dari tas gopal)
Gopal : “Tapi tadi tidak ada pak.”
Pak guru :
“Sudah-sudah, kamu memang sering lupa.”
Setelah
pulang sekolah, gopal termenung membayangkan yang dikatakan oleh pak guru. Hari
berikutnya saat gopal hendak berangkat sekolah, tiba-tiba buku yang akan dia
bawa tidak ada lagi di dalam tasnya. Lalu dia bertanya kepada ayah dan ibunya.
Tetapi Pak Joko dan Bu Sutinah tidak mengetahuinya. Gopal mencari dimana-mana
tapi tidak ketemu juga. Lalu ibu gopal membuka tasnya dan menemukan buku yang
gopal cari. Gopal semakin bingung dengan tas yang diberikan oleh kakek tua
beberapa hari yang lalu.
Setelah
lama gopal dipermainkan oleh tasnya, dia baru sadar bahwa tas yang dipakainya
adalah tas ajaib. Dahulu tas itu digunakan oleh orang untuk menyimpan barang
berharga seperti emas dan permata. Tas itu juga dipergunakan sebagai tempat
bersembunyi dalam peperangan. Di dalam tas inilah tempat yang paling aman.
Dengan tas tersebut gopal tidak perlu lagi meletakkan buku-bukunya di sembarang
tempat karena di dalam tas seperti di dalam rumah yang mewah. Sehingga gopal
menyimpan semua bukunya di dalam tas ajaib itu. Jadi, dia tidak usah
capek-capek mempersiapkan bukunya sehari-hari. Tas ajaib sungguh membuat hati
gopal senang dan gembira. Setiap kali temannya meminta gopal mengembalikan buku
pinjamannya, ia selalu membawanya.